Sabtu, 14 Maret 2015

Puisi untuk sepi.

Dikala nyanyian murahan mengetuk hatimu,

Entah apa yang dikatakan oleh sastrawan bahkan seniman ketika kata cinta sudah tidak memandang bulu, anak seusia sekolah dasarpun sekarang bisa menyimpulkan cinta dari pola fikirnya sendiri.

atau bahkan ketika ketika kesunyian menghampirimu ? apakah umur menjadi sebuah patokan untuk segalanya ? bahkan senimanpun mungkin merasa kesepian ?

Rinduku berubah lara
untung ia akhirnya sirna
dihabiskan api membara
kala senja menghidupi lara

Ketika api itu hilang
kenangan itu tetap saja membayang
tersembab menangis di teduhnya dahan

Dan saat semua telah mati
tersisa kau yang terdiam meratapi.
haha!
mampus kau di koyak-koyak sepi


aqu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar